Selasa, 04 Oktober 2011

Psikologi Lintas Budaya

TUGAS

PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA

PENGERTIAN/TINJAUAN PUSTAKA

a. Psikologi

Ilmu yang mempelajari proses-proses mental dan perilaku makhluk hidup, ataupun proses-proses mental dan perilaku itu sendiri.

b. Lintas Budaya

Memahami keragaman budaya yang ada di dunia sekaligus dampak budaya tersebut terhadap kelangsungan masyarakat sosial dalam lingkup budaya tertentu. Sementara kalau dalam psikologi lintas budaya, pembahasannya seputar pengaruh lingkungan budaya terhadap perilaku individu. Fungsi dari lintas budaya sendiri kalau menurut saya untuk merentangkan toleransi kita ketika berhadapan dengan anggota masyarakat dari budaya yang berbeda dengan kita sendiri.

Psikologi Lintas Budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara ubaha psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ubahan-ubahan tersebut.

c. Etnosentrisme

Menurut matsumoto (1996) etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat dunia hanya melalui sudut pandang budaya sendiri. Berdasarkan definisi ini etnosentrisme tidak selalu negative sebagaimana umumnya dipahami. Etnosentrisme dalam hal tertentu juga merupakan sesuatu yang positif. Tidak seperti anggapan umum yang mengatakan bahwa etnosentrisme merupakan sesuatu yang semata-mata buruk, etnosentrisme juga merupakan sesuatu yang fungsional karena mendorong kelompok dalam perjuangan mencari kekuasaan dan kekayaan.

d. kolektivisme

Kolektivisme adalah teori politik yang menyatakan bahwa kehendak rakyat adalah mahakuasa, seseorang harus mematuhi, bahwa masyarakat secara keseluruhan, bukan individu, adalah unit nilai moral.

e. Peran Gender

Peran Gender adalah perilaku yang dipelajari di dalam suatu masyarakat/komunitas yang dikondisikan bahwa kegiatan, tugas-tugas atau tanggung jawab patut diterima baik oleh laki-laki maupun perempuan. Peran gender dapat berubah, dan dipengaruhi oleh umur, kelas, ras, etnik, agama dan lingkungan geografi, ekonomi dan politik. Baik perempuan maupun laki-laki memiliki peran ganda di dalam masyarakat. Perempuan kerap mempunyai peran dalam mengatur reproduksi, produksi dan kemasyarakatan. Laki-laki lebih terfokus pada produksi dan politik kemasyarakatan.

f. Epistimologi Genetika

Epistemologi Genetika upaya untuk menjelaskan pengetahuan, dan dalam pengetahuan ilmiah tertentu, berdasarkan sejarahnya, sociogenesis, dan khususnya asal pengertian psikologis dan operasi atas mana hal itu didasarkan. Tujuan epistemologi genetik adalah untuk menghubungkan validitas pengetahuan untuk model konstruksi. Dengan kata lain, itu menunjukkan bahwa metode di mana pengetahuan diperoleh / dibuat mempengaruhi validitas pengetahuan itu.

g. Komunikasi Antar Budaya

Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini.

h. Akulturasi

Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.

i. Enkulturasi

Enkulturasi adalah proses penyesuaian diri dengan adat –istiadat, lingkungan, sistem norma, dan aturan aturan hidup lainnya.

j. kemajemukan

Kemajemukan atau pluralitas merupakan suatu gejala sosial yang umum ditemui di setiap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, diakui atau tidak, disadari atau tidak.

k. Multikutural

Multikultural dapat diartikan sebagai keragaman atau perbedaan terhadap suatu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Sehingga masyarakat multikultural dapat diartikan sebagai sekelompok manusia yang tinggal dan hidup menetap di suatu tempat yang memiliki kebudayaan dan ciri khas tersendiri yang mampu membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain.

l. Konformitas

konformitas adalah seseorang berperilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan merupakan bentuk interaksi yang di dalamnya kelompok. ( Kamanto Sunarto, 2004 ).

m. Individualism

Suatu pandangan dan sikap yang menekankan kekhususan, martabat, hak, dan kebebasan individu.

n. Intelegensi Umum

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.

o. Ekologi

Ekologi biasanya diartinya sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbale balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya

PEMBAHASAN

Ringkasan Buku

Transmisi Budaya dan Biologis

AKULTURASI

Kehadiran orang Belanada di Indonesia, yang kemudian jadi penguasa, sangat mempengaruhi gaya hidup, bentuk bangaunan tradisional, serta fungsi ruangannya. Selain itu, alat perlengkapan rumah tangga yang biasa dipakai sehari-hari oleh rakyat pribumi juga mengalami perubahan. Lalu tujuh unsur universal yaitu bahasa, peralatan&perlengkapan hidup, matapencarian dan sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, kesenian , ilmu pengetahuan dan religi juga ikut terpengeruh. Ketujuh unsur universal budaya itu bercampur dan percampuran antara kebudayaan Belanda dan Pribumi itulah yang disebut kebudayaan Indis.

Akulturasi yang terjadi antara budaya asing (Belanda) dan pribumi dapat dibilang cukup sukses, mengapa? Ya karena masing-masing budaya (Asing dan Pribumi) sama sekali tidak kehilangan ke khas-an nya. Contohnya pada masyarakat Jawa. Meski banyak sekali kedatangan para ‘tamu’ dari Eropa, Cina, Australia, dan India kebudayaan Pribumi Jawa dapat tetap bertahan. Local Genius pribumi Jawa mampu menanggapi kehadiran budaya asing secara aktif tanpa kehilangan kepribadiannya. Semua hal tadi menunjukan bahwa pribumi Jawa memiliki sikap open minded tolerance atau savoir vivre (lapang dada).

Bentuk bangunan

Pengaruh budaya asing khususnya Belanda yang datang ke Indonesia cukup besar. Selain mempengaruhi tujuh unsur universal budaya, pengaruh budaya asing juga ‘menjalar’ pada tata bentuk (arsitektur) bangunan/tempat tinggal. Meskipun bentuk dasar bangunan/tempat tinggal masih tradisional, tetapi pada beberapa tata letak dan ornamen-ornamen yang terdapat di bangunan/tempat tinggal tersebut ada pengaruh dari budaya asing. Contohnya adalah sebelum masa itu rumah-rumah orang pribumi tidak dilengkapi atau ada tempat pembuangan (jamban) atau pun tempat mandi di sekitar rumah maupun di dalam lingkungan rumah.

atau kali pada pagi hari. Setelah masuknya kebudayaan asing dan terbentuknya kebudayaan indis, rumah-rumah para non-pribumi atau keturunannya sudah mulai memiliki tempat pembuangan dan tempat mandi yang terletak di dalam halaman rumah. Lalu pada tahun 1870 masyarakat mulai mengenal kamar mandi yang terletak di dalam rumah seperti yang kita kenal.

Lalu pada rumah-rumah tersebut biasanya ada ornamen atau hiasan bergaya eropa. Contohnya pada puncak atap rumah yang terdapat hiasan seperti ukiran dan pahatan patung atau juga bentuk-bentuk seperti menara kecil yang menjulang tidak begitu tinggi.

ENKULTURASI

Pada masa kebudayaan Indis, enkulturasi terjadi dilingkungan pendidikan dimana pengaruh teman sekitar bagi seorang anak lah yang akan ‘membentuk’nya. Kebiasaan hidup mewah misalnya, anak-anak pada masa itu melihat cara para orang dewasa berpakaian, cara atau kebiasaan para orang dewasa merayakan sesuatu dengan berpesta (minum bir bersama contohnya).

BIOLOGIS

Suburnya budaya Indis pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda. Pada masa itu ada larangan membawa pasangan dan mendatangakan perempuan Belanda ke Hindia Belanda. Hal itu mendorong para lelaki Belanda menikahi penduduk setempat. Maka terjadilah percampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran, serta sevara otomatis menimbulakan budaya dan gaya hidup Belanda-Pribumi/gaya Indis.

AWAL PENGEMBANGAN DAN PENGASUHAN

Pada keluarga bangsawan dan priyayi Jawa, anak-anak diasuh oleh para pembantu yang biasanya di sebut emban. Selain emban ada juga inya yang bertugas menyusui dan wuucumbu (abdi pendampng). Pembagian tugas yang seperti demikian ternyata diikuti juga oleh keluarga Belanda, Indo, dan priyayi baru. Anak-anak meraka diasuh oleh para babu, jongos, dan sopir. Para pembantu rumah tangga tersebut tidak hanya sekedar mengurus rumah tetapi juga menjaga anak-anak para majikan mereka dan pembagian kerja seperti itu tidak dikenal di negara Belanda.

Jelas dari hal tersebut, kelekatan (attachment) antara anggota keluarga misalnya anak dan orang tuanya tidak akan begitu kuat dikarenakan intensitas pertemuan dan melakukan kegiatan bersama, anak lebih sering dilakukan dengan pengasuh dan bukan orang tuanya sendiri. Perkembangan yang terjadi pada anak yang diasuh oleh para pengasuh tersebut juga akan berbeda dibanding dengan perkembangan anak pada masyarakat biasa.

KOGNISI SOSIAL

Contoh yang diambil adalah dalam hal pembangunan rumah tempat tinggal dan susunan tata ruangnya. Arti simbolik suatu bagian rumah sangant berkaitan erat dengan perilaku penghuninya. Pada suku Jawa, misalnya, tidak dikenal pembagian ruang khusus bagi keluarga dengan pembedaan umur, jenis kelamin, generasi, famili, dan bukan anggota penghuni rumah. Fungsi ruanagn tidak dipisah atau dibedakan secara jelas. Contoh lainnya adalah keselarasan sistem simbolik. Memang orang Eropa mengenal peletakan batu pertama dan pemancangan bendera di atas pemuncak bangunan mereka yang sedang dibangun dan diikuti dengan pesta minum bir, tetapi hal semacam itu adalah peninggalan budaya lama mereka. Kegiatan itu sudah lama mereka tinggalkan. Namun bagi orang Jawa, menaikan mala (tiang) sebuah rumah tinggal dengan selametan, melekan (wungon, bedagang), meletakan secarik kain tolak bala, sajen, dan memilih hari baik , memiliki arti simbolik tertentu bagi mereka. Bagi pribumi Jawa meninggalkan semua adat itu adalah berat.

KONFORMITAS

Dalam proses akulturasi kedua kebudayaan tersebut, peranan penguasa kolonial di Hindia Belanda sangat menentukan, sementara itu bangsa Indonesia menerima nasib sebagai bangsa terjajah, serta menyesuaikan diri sebagai aparat pengusa jajahan atau kolonial. Hasil perpaduan itu menunjukan bahwa kebudayaan Eropa lebih menonjol dan dominan.

Dari penggambaran di atas dapat kita simpulkan bahwa masyarakat pribumi melakukan konformitas atas dasar kelompok penguasa atau kolonial lebih ‘besar’ dan dominan. Meskipun terlihat budaya Eropa sangat dominan dan mayoritas pribumi yang melakukan konformitas dengan memilih menyesuaikan diri, pada akhirnya akulturasi tetap ‘berjalan baik’.

BAHASA

Sejak akhir abad ke-18 sampai awal ke-20, bahasa melayu pasar mulai berbaur dengan bahasa Belanda. Pembauran ini berawal dari bahasa komunikasi yang digunakan oleh keluarga dalm lingkungan “Indische landshuizen”, yang selanjutnya digunakan oleh golongan Indo-Belanda. Bahasa ini kemudian berkembang di Batavia. Di Jawa tengah dan Jawa timur proses perpaduan bahasa Belanda dan Jawa terjadi hanya pada sebagian masyarakat pendukung kebudayaan Indis. Proses ini menimbulkn bahasa pijin atau bahasa campuran, yang pada umumnya digunakan oleh orang-orang keturunan Belanda dengan ibu Jawa, oleh Cina keturunan, dan Timur asing.

Seperti bahasa pijin, bahasa kreol pun dapat diuraikan secara etimologis-terminologis. Istilah “creole” dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Spanyol yang artinya “kreolis”, “asli”. Karena itulah istilah “kreol” atau “kreolis” dalam arti linguistis pertama-tama dipakai di pulau-pulau west indies Prancis dan juga di Louisiana untuk menyambut bahasa-bahasa yang dipakai para budak. Dalam terminologi-linguistik dewasa ini seperti halnya bahasa pijin, bahasa kreol pun memiliki komponen linguistik, sosiologis, dan historis. Bahasa hasil campuran orang-orang Belanda dengan orang Jawa ini lazimnya di sebut bahasa peetjoek atau petjoek terutama sebelum perang dunia ke II di Semarang, Jawa tengah, dan sekelilingnya

PERKEMBANGAN BAHASA

Berita tertulis tentang wilayah pemukiman yang kemudian berkembang menjadi kota, sudah lama dikenal sebelum abad ke-19. Dalam disertasi F.A. Soetjipto tentang kota-kota pantai di sekitar Selat Madura terdapat informasi tentang sumber-sumber berita tertulis Pribumi, antara lain berupa babad, kidung maupun serat, baik yang masih berupa manuskrip maupun yang sudah dicetak dengan jumlah cukup banyak. Karya-karya tulis ini banyak ditulis di daerah pantai dan pedalaman Pulau Jawa.

Pada peristiwa ini, ada perkembangan bahasa dan relativitas linguistik. Terbukti dengan adanya beberapa sumber berita tertulis dalam bentuk manuskrip ataupun yang sudah dicetak. Dalam manuskrip pasti ada perkembangan bahasa, dan relativitas linguistic, karena sumber berita pasti menggunakan beberapa bahasa, dari bahasa pribumi, serapan, sampai bahasa orang eropa (belanda, inggris, dan lain-lain).

Pengamat dan peneliti sejarah kesenian Indonesia kuno mempermasalahkan nilai relief candi Borobudur sebagai sumber sejarah. N. J. Krom menilai pentingnya relief candi Borobudur sebagai sumber sejarah kehidupan masyarakat Jawa, sementara F.D.K Bosch meragukan kebenaran bentuk bangunan rumah pada relief bangunan tersebut benar-benar terdapat di Jawa. Penulis sependapat bahwa relief candi merupakan hal yang berharga bagi penelusuran sejarah masyarakat Jawa. Pada kaki asli candi Borobudur dengan relief karmawibangga, terdapat tu;isan-tulisan berhuruf dan berbahasa Jawa. Bukti ini menjadi petunjuk bahwa pelaksana pembangunan candi Borobudur adalah orang yang berbahasa dan menulis dengan huruf atau orang Jawa.

Dengan adanya tulisan berhuruf Jawa, jelas adanya perkembangan bahasa dari rakyat pribumi, walaupun budaya luar masuk, tapi masyarakat pribumi tetap mempertahankan dan melestarikan budaya dalam berbahasa agar terus berkembang.

PERSEPSI POLA DAN GAMBAR

J. Th. Bik dan adiknya A.J. Bik adalah pelukis dan penulis. Mereka menulis Aantekeningen Nopens een reis naar Bima, Timor, Moluksche Eilanden, Menado en Oost Java (1864). G.H: negel menulis Schetsen uit mijne Javaansche Portefeulle (1828). Selain sebagai peneliti, juga penulis sketsa. Berita visual berasal dari karya lukisan, sketsa, grafis dan potret.

Dalam hal ini sub-teori fungsi indera, persepsi pola dan gambar, rekognisi (mengenali) wajah, dan inteligensi umum termasuk didalamnya. Dari profesi mereka yang pelukis dan penulis, peneliti, juga penulis sktesa. Itu semua membutuhkan kecerdasan dan juga keahlian dalam menciptakan suatu karya dengan menggunakan beberapa sub-teori yang telah disebutkan.

Baru pada abad ke-19 dikirim para pelukis yang khusus melukis segala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian. Misalnya, Junghun melukis berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, Rumphius melukis berbagai jenis binatang darat dan laut, dan Bemenllen melukis tentang alam. Lukisan para pelukis yang mengikuti ekspedisi ilmu pengetahuan tersebut dapat berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Dari perbedaan objek yang digambar oleh pelukis, jelas terciptanya akar sejarah dalam membentuk persepsi yang diasosiasikan dengan fungsi indera dan menghasilkan estetika-estetika psikologis lewat persepsi pola dan gambar.

Sayang sekali peninggalan seni lukis pada benda-benda keramik di Indonesia tidak di kenal. Bahkan sampai sekarang tidak ada tradisi melukiskan bangunan atau rumah pada karya keramik seniman dan pengrajin Indonesia, apalagi disertakan tulisan, untunglah ingatan generasi tua di Indonesia masih segar dan peninggalan bangunan rumah gaya indis masih cukup banyak tersebar di setiap kota di Pulau Jawa.

AKAR SEJARAH DALAM MEMBENTUK PERSEPSI

Benda-benda berupa karya lukis, karya sastra, foto gravir, sketsa, relief atau benda seperti maket yang dibuat oleh museum atau lembaga penelitian. Bentuk bangunan rumah Jawa zaman Majapahit atau zaman Jawa Hindu, orang dapat melihatnya dari gambar relief candi atau hasil seni sastra seperti Nagara Kertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Selain lukisan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari, benda keramik dari masa Yunani dan Romawi kuno tersebut ada yang berlukiskan bangunan umum atau bangunan rumah tinggal.

Sesuatu yang telah diciptakan oleh seniman jaman Majapahit dan jaman Jawa Hindu meciptakan suatu akar sejarah dalam membentuk persepsi, dan mengahasilkan suatu persepsi pola dan gambar, beberapa karya yang diciptakan, menjadi kontekstualisasi kognitif bagi tiap orang.

GAYA KOGNITIF

Pengertian kota dan macam-macam jenis kota sudah ditulis oleh beberapa sarjana. Yang menarik ialah karya tulis Peter J. M. Nas yang membahas tentang kota yang dibedakannya dalam empat macam, yaitu: (1) kota awal Indonesia, (2), kota Indis, (3) kota colonial, dan (4) kota modern. Kota awal Indonesia disebut memiliki struktur yang jelas mencerminkan tatanan kosmologis dengan pola-pola social budaya yang dibedakan dalam dua tipe.

Dari beragamnya kota yang didefinisikan, terjadi transmisi budaya antara masyarakat pribumi dan Belanda, dan gaya kognitif jelas tercermin pada pembagian kota di Indonesia menjadi 4 bagian.

TRANSMISI BUDAYA

Budaya indis yang berkembang subur pada abad ke-18 sampai abad ke-19, dan berpusat di wilayah-wilayah tanah partikelir dan di lingkungan Indische landhuizen. Pada permulaan abad ke-20 kebudayaan ini bergeser ke arah urban life seiring dengan hilangnya pusat-pusat kehidupan tersebut.

Pergeseran Budaya Indis menjadi Urban Life menjadi transmisi budaya yang nyata dalam kehidupan masyarakat zaman dulu. Ada seuatu perubahan kebudayaan dari Indis menjadi kota (urban).

Kelompok-kelompok pemukiman, sesuai dengan lingkungan kelompok-kelompok suku, terpisah dengan jelas. Dalem kabupaten sebagai replica rumah penguasa tertinggi pribumi (raja) menghadap ke alun-alun dengan pohon beringin di tengahnya. Di sekitar dalem kabupaten terdapat rumah asisten residen atau kontrolir. Tidak jauh dari alun-alun terdapat gedung pengadilan, rumah penjara, gedung garam dan candu, kantor pos telegraf telepon (PTT) dan rumah para pejabat kabupaten baik pejabat eropa atau pribumi lainnya.

Maclaine Pont berpendapat bahwa pada awal abad ke-20 bangunan kota-kota di pulau Jawa sudah banyak menerima pengaruh seni bangunan Belanda. Pemukiman dan tempat tinggal penduduk di Kepulauan Hindia Belanda terbagi sesuai dengan golongan dan kebangsaannya. Ada empat golongan kebangsaan, yaitu: 1) orang negeri atau bangsa pribumi, 2) orang yang disamakan dengan anak negeri, 3) orang eropa, dan 4) orang yang disamakan dengan bangsa eropa.

GAYA KOGNITIF

Unsur utama kehidupan seni bangunan Jawa adalah adanya keharmonisan dengan alam sekeliling. Seiring perjalanan waktu, terdapat berbagai pengaruh budaya asing, termasuk bahan material yang digunakan. Di berbagai daerah di Jawa masih banyak ditemukan bentuk gaya asli, bahkan terdapat suatu kesatuan dalam gaya bangunan.

Gaya bangunan menjadi gaya kognitif bagi orang Jawa dan menjadi akar sejarah dalam membentuk persepsi hingga saat ini,

Gambaran monumental sesuai dengan gambaran ide keindahan sebuah lingkungan kota lama di Jawa dapat diamati di kota Yogyakarta. Kompleks Keraton Yogyakarta, termasuk perkampungan disekitarnya, merupakan tempat tinggal sultan dan para bangsawan serta hambanya. Di sepanjang parit terbentang jalan lebar yang ditanami pohon gayam.

MULTIKULTURAL, KOLEKTIVISME

Sejak zaman kuno, pusat kegiatan ekonomi di pulau Jawa adalah pasar, yang sekaligus berfungsi sebagai pusat transaksi antar wilayah sekitarnya. Di luar kompleks pasar terdapat pertokoan yang lebih dikenal sebagai pecinan sekaligus merupakan tempat bermukim masyarakat Cina. Di sekitar pertokoan Cina juga terdapat warung-warung milik pedagang kecil Pribumi yang mengusahakan bengkel, menjual barang bekas, penjual meracang kelontong dan penjuallainnya.

Dalam hal ini terjadi Enkulturasi dan sosialisasi, yakni proses pembentukan budaya dari dua bentuk kelompok budaya berbeda sampai munculnya pranata yang mantap. Kebersamaan yang terjalin menimbulkan kolektivisme, adanya konteks social, dan beberapa etnis menjadikan wilayah itu memiliki masyarakat yang plural akan budaya.

INTELIGENSI UMUM

Perkembangan ekonomi pada akhir abad ke-19, yang ditopang oleh pembangunan komunikasi, transportasi, edukasi dan birokrasi, kota jadi ,akin ramai dan berpenduduk lebih padat.

Edukasi menjadikan inteligensi umum menjadi sebuah sub-teori yang jelas dalam perkembangan yang terjadi pada akhir abad-19. Kecerdasan berperan penting dalam membentuk pembangunan.

Di Singapura, para arsitek menaruh perhatian pada hal semacam itu. Kemampuan jenius yang dimiliki rata-rata orang Inggris di British India tersebut seyogyanya dapat dilakukan oleh orang Belanda sebagai orang asing di bumi Hindia Belanda. Kemampuan jenius yang dimiliki orang Inggris menjelaskan suatu Intelegensi umum yang tinggi.

Jelas jika membicarakan tentang intelegensi umum, antara Bangsa pribumi dengan bangsa pendatang (Eropa Belanda) sangatlah berbeda. Intelegensi pada pendatang (Eropa Belanda) jelas lebih tinggi hal itu ditunjukan bahwa mereka dapat menyusun “starategi hidup” di tempat baru. Selain itu mereka bahkan mulai mendirikan sekolah-sekolah di daerah Yogyakarta pada tahun 1910-1930 untuk para pribumi demi memperluas ilmu pengetahuan yang dia dapat dari Eropa.

Bahkan antara gender warga pribumi saja dapat terlihat perbedaaan intelegensi. Lalu bukan hanya gender, status sosial pula menjadi faktor perbedaan intelegensi karena pada masa itu yang biasanya bersekolah di sekolah Belanda adalah para anak priyayi. Tetapi secara keseluruhan masyarakat pribumi khususnya Jawa, juga menunjukan bahwa mereka punya tingkat intelegensi yang baik yaitu Local Genius dimana masyarakat pribumi Jawa dapat mengorganisir dan menyaring setiap budaya yang berdatangan tanpa kehilangan budaya sendiri.

BUDAYA DAN KESEHATAN

Pengamatan tentang perbaikan pemukiman dan perumahan pribumi banyak kendalanya, khusunya pada bidang kesehatan. Yang paling memprihatinkan ialah berjangkitnya berbagai penyakit. Sesudah 1910 terjadi kekurangan bahan makanan di Jawa sehingga diperlukan impor beras dari berbagai negeri di Asia.

Pemukiman dan adanya suatu penyakit yang menular pada masyarakat menjelaskan budaya dan kesehatan

PERILAKU GENDER

Sekitar tahun 1910-1930 didirikan sekolah-sekolah di daerah Yogyakarta yang tersebar di sembilan desa. Sekolah pertama didirikan di Ganjuran pada tahun 1919, dengan 202 siswa semuanya pria. Siswa-siswa itu tidak hanya dididik agar menjadi seorang calon guru, tetapi mereka juga dijadikan tenaga rendahan di pabrik gula Gondang Lipura.

Pendidikan pada masa itu adalah alat penting untuk melatih seseorang agar dapat ‘memegang’ suatu posisi jabatan dalam suatu status masyarakat. Pada awalnya pendidikan hanya diprioritaskan pada siswa laki-laki, karena pendidikan dari bangasa Eropa itu dianggap kurang meresap dan kurang penting bagi perempuan karena perempuan dianggap hanya sebagai alat pendamping suami dalam bergaul dengan para pejabat Belanda. Lalu pada tahun 1920-1930 barulah ada perubahan. Siswa perempuan mulai ada dan para perempuan mulai ikut membantu dalam peningkatan pendapatan keluarga.

Jelas perbedaan terhadap gender sangat terlihat pada masa itu meskipun tidak berlangsung lama atau seperti sebelum masa itu. Perkembangan zaman secara tidak langsung memberi pengaruh pada perlakuan terhadap gender dimana status dianggap sama kecuali kodratnya masing-masing.

BILINGUALISME

Kedatangan bangsa Eropa (Belanda) dengan segala macam tujuannya ke tanah air secara langsung memberi ‘tuntutan’ baru terhadap mereka sendiri. Tuntutan seperti apa? Ya, mereka dituntut untuk dapat menguasai tata bahasa pribumi. Tuntutan itu bertujuan agar memperlancar semua kegiatan Eropa (Belanda) selama di Indonesia khususnya pulau Jawa. di sisi lain warga pribumi juga dituntut hal yang sama yaitu menguasai sedikit banyak bahasa orang Eropa (Belanda) tetapi jelas dengan tujuan yang berbeda yaitu untuk kegiatan perdagangan.

Dari hal itu muncul banyak dampak positif meskipun ada pula efek negatif. Tetapi efek positif yang terliat adalah kedua bangasa yang berbeda tersebut jadi menguasai dua bahasa berbeda, bahkan dapat memunculkan bahasa baru.

Kesimpulan

Kebudayaan Indis merupakan hasil perpaduan dua kebudayaan, yaitu Indonesia dan Eropa. Kebudayaan ini merupakan kepanjangan kebudayaan Indonesia, yang berdiri atas kebudayaan pra-sejarah, kebudayaan Hindu-Budha dan kebudayaan Islam di Indonesia. Kebudayaan ini juga merupakan produk dari kebudayaan barat. Kebudayaan Indis di Indonesia berakhir setelah kekalahan Hindia Belanda atas Jepang.

Meskipun kebuidayan Indis di Indonesia telah berakhir, ternyata di Belanda kebudayaan Indis tetap hidup. Hal ini terbukti dengan adanya pasar malam TongTon di Den Haag yang acaranya menggelar berbagai macam pertunjukan bertemakan seni Indis. Dapat kita ambil suatu pelajaran bahwa kemunculan budaya Indis merupakan suatu bukti bahwa perbedaan kebudayaan tidak selalu membvuat kita (Bangsa-bangsa) terpisah tetapi masih bergabung.

Namun ada beberapa peninggalan peninggalan kebudayaan Indis, antara lain :

1. Seni bangunan

Sampai akhir abad ke-20, banyak peninggalan seni bangunan gaya indis, baik berupa bangunan seperti gedung, benteng, perkantoran yang sudah digusur, atau rusak parah, namun beberapa ada yang masih berdiri dengan megah dan kokoh.

2. Seni Rupa dan Seni Kerajinan

Barang – barang peninggalan gaya indis antara lain seni lukis, seni patung (relief), dan seni kerajinan (termasuk seni Jauhari, yaitu kerjaninan membuat perhiasan dari emas, perak, dan batu – batu mulia) banyak yang tidak menjadi koleksi museum Indonesia, melainkan dimiliki oleh individu – individu sebagai koleksi.

Saran

Agar penulisan di buku selanjutmya lebih menarik, topik bahasan diperluas agar tidak membosankan dan menambah minat baca pada masyarakat luas. Pemilihan bahasa dalam kemasan yang lebih ringan, sehingga bisa dibaca oleh semua kalangan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Soekiman, Djoko. 2011. Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni Sampai Revolusi. Jakarta:

Komunitas Bambu

Wikipedia. Multikultularisme. http://id.wikipedia.org/wiki/Kebinekaan#Multikulturalisme_di_Indonesia. Diakses 3 Oktober 2011.

Budaya.http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090313223100AASe5SiLintas Budaya. Diakses 3 Oktober 2011

Wikipedia.Akulturasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi. Diakses 3 Oktober 2011

Wikipedia.Psikologi Lintas Budaya. http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_lintas_budaya.

Diakses 3 Oktober 2011

Blogspot. Etnosentrisme. http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/etnosentrisme.html. Diakses 3 Okto ber 2011

Wikipedia. Multikulturisme. http://id.wikipedia.org/wiki/Kebinekaan#Multikulturalisme_di_Indonesia. Diakses 3 Oktober 2011

BKP Penabur. Ekologi.http://www.bpkpenabur.or.id/files/Hal.125132%20Pembelajaran%20Eko

logi.pdf.Diakses 3 Oktober 2011

Blogspot. Pengertian Intelegensi. http://bknpsikologi.blogspot.com/2010/11/pengertian-inteleGe

nsi.html. 3 Oktober 2011

Google. Ensiklopedi politik popular pembangunan pancasila. http://books.google.co.id/books?id

=zdqfBQbB3UC&pg=PA94&lpg=PA94&dq=pengertian+individualisme&source=bl&ot

s=GU0FFwtoE5&sig=yVuuLMc-xWQMwNZhR4ur3k12O8&hl=id&ei=Q8mJTqHYH8

XirAep7vHrDA&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4&sqi=2&ved=0CCsQ6AE

wAw#v=onepage&q=pengertian%20individualisme&f=false. Diakses 3 Oktober 2011

blogspot. Konformitas. http://psychemate.blogspot.com/2007/12/konformitas-sosial.html.

Diakses 3 Oktober 2011

NAMA KELOMPOK

Aji Purnomo (11509066)

Faniardhiny B (14509040)

Maizar Saputra (11509366)

Seto Wicaksono (11509204)

Tri Wulandari (12509172)

Vini Wahyuni Nabila (15509580)

Psikologi Lintas Budaya

Rabu, 23 Maret 2011

KEPRIBADIAN SEHAT

A. Kepribadian Sehat ditinjau dari Aliran Psikoanalisa

Teori psikoanalisa menelaah kepribadian pribadi motif motif tak sadar yang mengarah perilaku. Teori psikoanalisa membahas perkembangan kepribadian. Freud membandingkan pikiran manusia dengan gunung es. Bagian kecil yang tampak si atas permukaan air menggambarkan pengalaman sadar; bagian yang lebih besar di bawah permukaan air menggambarkan ketidaksadaran gudang impuls, nafsu, ingatan yang tidak terjangkau, yang mempengaruhi pikiran dan perilaku. Bagian ketidaksadaran psike inilah yang berusaha diselidiki Freud melalui tekhnik asosiasi bebas, yang menghendaki orang menyatakan hal-hal yang muncul dalam kesadarannya, tidak peduli apakah hal itu tampak memalukan atau tampak tidak ada artinya. Dengan menganalisis asosiasi bebas, termasuk ingatan tentang mimpi dan kenangan masa kanak-kanak awal, Freud berusaha mambantu pasiennya menyadari hal-hal yang tidak disadari dang dengan cara demikian menemukan faktor penentu utama kepribadian.

Freud yakin bahwa kepribadian tersusun dari tiga sistem utama: id, ego, superego. Setiap sistem mempunyai fungsi sendiri-sendiri.

1. Id: merupakan bagian yang paling primitive, yang sudah ada sejak lahir. Dari Id inilah ego dan superego berkembang. Id terdiri dari impuls (dorongan) biologis dasar: kebutuhan makan, minum, buang air, menghindari rasa sakit, dan memperoleh kenikmatan seksual.

2. Ego: mengikuti prinsip realitas pemuasan impuls harus di tunda sampai ditemukan kondisi lingkungan yang tepat. Misalnya dengan mempertimbangkan dunia nyata, ego menunda pemuasan impuls seksual sampai diperoleh kondisi yang tepat. Pada dasarnya, ego merupakan badan eksekuif kepribadian yang menetapkan tindakan apa yang tepat, impuls id mana yang akan dipuaskan, dan cara pemuasan apa yang akan diloakukan. Ego menjadi penegah antara tuntutan id, realitas lingkungan dan tuntutan superego.

3. Superego: gambaran internalisasi nilai dan moral masyarakat yang diajarkan orangtau dan oranglain pada anak. Pada dasarnya superego merupakan hati nurani seseorang. Superego menilai apakah suatu tindakan benar atau slah. Id cari kesenangan, ego menguji realitas, dan superego berusaha menjadi sempurna. Superego berkembang sebagai respons terhadap ganjaran dan hukuman orangtua. Superego menggabungkan semua tindakan yang menyebabkan anak di beri ganjaran.

Ego berkembang tidak tergantung dari id dan menampilkan fungsi lain disamping menemukan cara realistic untuk memuaskan impuls id.

Fungsi ego ini adalah:

1. Belajar bagaimana mengatasi lingkungan

2. Member makna pengalaman

Pemuasan ego mencakup eksplorasi, manipulasi, dan kompetensi penampilan.

Teori psikoanalisa menimbulkan dampak yang sangat besar pada konsepsi psikologis dan fisiologis tentang sifsat dasar manusia. Sumbangan Freud yang utama adalah pernyataannya bahwa kebutuhan dan konflik tak sadar memotivasi sebagian besar perilaku kita dan penekanannya pada makna penting pengalaman masa kanak-kana awal dalam perkembangan kepribadian. Penekanannya pada faktor seksual menimbulkan kesadaran tentang peranan faktor tersebut dalam masalah penyesuaian diri dan membuka jalan untuk menelaah seksualitas secara ilmiah. Tetapi Freud mengadakan observasinya pada masa Victorian, ketika standar seksual sangat ketat sehingga dapat dimengerti bahwa sebagian besar konflik pasiennya terpusat pada hasrat seksual mereka. Dewasa ini perasaan bersalah tentang seks tidak begitu sering, tetapi timbulnya penyakit mental kurang lebih tetap sama. Konflik seksual bukan merupakan satu-satunya sebab gangguan kepribadian dan bahkan mungkin bukan merupakan yang utama. Beberapa kritikus juga menyatakan bahwa teori kepribadian Freud hampis seluruhnya didasarkan pada pengamatannya tentang individu yang mengalami gangguan emosional dan mungkin bukan merupakan deskripsi yang tepat tentang kepribadian yang normal dan sehat.

B. Kepribadian Sehat ditinjau dari Aliran Behavioristik

Behaviorisme merupakan orientasi teoritis yang didasarkan pada premis bahwa psikologi ilmiah harus berdasarkan studi yang teramati. Teori ini dicetuskan oleh John B. Watson.

Adapun teori ini terbagi atas 2 bagian yaitu:

a) Teori Kepribadian Klasikal

Kepribadian ini dicetuskan oleh Juan Petrovich Pavlov. Dia menggunakan eksperimen terhadap seekor anjing. Anjing dioperasi sedemikian rupa, sehingga apabila air liur keluar dapat dilihat dan dapat ditampung dalam tempat yang telah disediakan. Apabila anjing lapar dan melihat makanan, kemudian mengeluarkan air liur, ini merupakan respon yang alami, respon yang reflektif, yang oleh Pavlov disebut respon yang tidak terkondisi yang disingkat UCR. Apabila anjing mendengarkan bel dan kemudian menggerakan telinganya, ini merupakan respon yang alami. Bel sebagai stimulus yang tidak terkondisi atau UCS dan gerak telinga sebagai UCS.

b) Teori Kepribadian Operan

Dicetuskan oleh Skinner yang membagi tingkah laku dalam 2 tipe yaitu: responden dan operan. Tingkah laku responden adalah respon atau tingkah laku yang dibangkitkan atau dirangsang oleh stimulus tertentu. Tingkah laku responden ini wujudnya refleks. Tingkah laku responden ini ternyata dapat dibentuk melalui proses conditioning atau belajar. Tingkah laku ini bergantung pada reinforcement dan secara langsung merespon stimulus yang bersifat fisik.Tingkah laku operan adalah respon atau tingkah laku yang bersifat spontan tanpa stimulus yang mendorongnya secara langsung. Tingkah laku ini ditentujan atau dimodifikasi oleh reinforcement yang mengikutinya. Contohnya : ketika tikus yang dimasukan di dalam peti yang diberi makan untuk berapa waktu lamanya ( tikus menjadi lapar ), dia bertingkah laku secara spontan dan acak, dia aktif, mendengus, mendorong, dan mengeksplorasi lingkungannya. Tingkah laku ini bersifat sukarela, tidak dirangsang, dalam arti respon tikus itu tidak dirangsang oleh stimulus tertentu dari lingkungannya.

Kaum behavioristik pada dasarnya menganggap bahwa manusia sepenuhnya adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor yang datang dari luar. Lingkungan adalah penentu tunggal dari tingkah laku manusia. Dengan demikian kepribadian individu dapat dikembalikan semata-mata kepada hubungan antara individu dengan lingkungannya, hubungan itu diatur oleh hukum-hukum belajar, seperti teori pembiasaan (conditioning) dan peniruan.

Skinner dalam menanggapi kritakan mengatakan bahwa kemampuan-kemampuan (memilih, menetapkan tujuan mencipta) itu sebenarnya terwujud sebagai tingkah laku juga yang berkembangnya tidak berbeda dari tingkah laku-tingkah laku lainnya. Justru tingkah laku inilah yang dapat didekati dan dianalisis secara ilmiah. Semua ciri yang dimiliki oleh manusia harus dapat didekati dan dianalisis secara ilmiah. Dibandingkan dengan binatang mungkin manusia adalah binatang yang sangat unik, binatang yang bermoral, namun manusia tidak dapat dikatakan memiliki moralitas. Pendekatan behavioristik tidaklah mendehumanisasikan manusia, melainkan justru memanusiakan manusia, yaitu mengatasi kekerdilan manusia. Hanya dalam hubungannya dengan lingkungan yang didekati secara ilmiahlah kekerdilan manusia dapat diatasi dan harkat manusia dipertinggi.

C. Kepribadian Sehat ditinjau dari Aliran Humanistik

Filsuf abad ke-19,Kierkegaard,Heidegger,dan Husserl,dan filsuf abad ke 20,Jaspers dan Sartre,mencapai kesimpulan yang sama tentang kondisi eksistensi manusia.Para eksistensialis ini menganggap bahwa manusia,berhadapan dengan fakta kematian mereka yang selalu ada dan tidak terelakan,senantiasa hidup dalam ketidakpastian mengenai kemenjadian mereka,menurut Kierkegaard hal ini menghasilkan “Kecemasan Eksistensial”(Exixtensial anxiety). Lebih lanjut, seperti halnya Buddha, mereka mengakui bahwa tidak hanya kedatangan kematian yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan,tetapi juga aspek lain dari eksistensi seperti kesendirian dan keterasiangan manusia di dunia, serta ketiadaan tujuan yang hendak dicapai dan makna dalam kehidupan.

Bagi banyak orang,kelahiran manusia ke dunia, kehidupan di dunia, kesendirian, tanpa alasan yang jelas menimbulkan tidak hanya kecemasan namun juga frustrasi dan perasaan hampa. Sering kali, terdapat symptom dari “penyakit jiwa” psikopatologi yang menyebabkan banyak orang dalam masyarakat kontemporer mencari pertolongan kaum professional, pertolongan psikiater, yang sebelumnya mereka mungkin akan mencari bimbingan dari kaum pendeta. Seperti yang ditunjukan Schofield, bahwa psikoterapis semakin banyak dihadapakan pada mereka yang potensial menjadi pasien namun tidak menunjukan tanda-tanda masalah neurotic apa pun, tidak mengeluhkan kegagalan produktivitas atau prestasi kerja, tidak merasa menderita akibat konflik antarpribadi yang serius, merasa bebas dari keluhan penyakit somatic fungsional, tidak dilumpuhkan oleh kecemasan, atau perasaan tersiksa karena obsesi. Para pencari pertolongan ini menderita kebebasan dari keluhan. Ketiadaan konflik,frustrasi dan simtom yang membawa penyakit kesadaran atas ketiadaan-ketiadaan kepercayaan, komitmen, makna, kebutuhan untuk mencari jati diri, nilai-nilai utama, atau tentang kebutuhan hidup nyaman dan penuh makna, setiap hari di hadapan penghujung ketidakpastian. Karena semakin banyak manusia rasional, terdidik dan kaya gagasan, pusat perjuangan beralih menjadi pencarian dan pemeliharaan keseimbangan antara emosional dan psikologis dengan kebingungan dan kemewahaan iman.

Dengan demikian,sebagian Lasch menyatakan, para ahli terapi menjadi sekutu prinsipil manusia dalam perjuangan mereka untuk mencapai ketenangan dan kedamaian jiwa, dan ada harapan untuk kembali mencapai ekuivalen keselamatan modern (the modern equivalent salvation)-“Kesehatan Mental”.

D. Pendapat Allport tentang Kesehatan

Allport lebih optimis tentang kodrat manusia daripada Freud, dan ia memperlihatkan suatu keharusan yang luar biasa terhadap manusia, sifat-sifatnya yang tampaknya bersumber pada masa kanak-kanaknya. Seperti dikemukakan, pandangan-pandangan pribadi dan professional dari Allport berbeda dengan pandangan-pandangan Freud dan gambaran kodrat manusia yang diutarakan Allport adalah positif, penuh harapan, dan menyanjung-nyanjung. Karena itu salah satu pendekatan yang berguna terhadap pemahaman segi pandangan psikologis Allport adalah mengemukakan tema-tema pokok dari teorinya tentang kepribadian dan menunjukan bagaimana tema-tema itu berbeda dari apa yang terdapat pada Freud.

Allport tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tak sadar, kekuatan-kekuatan yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi. Orang-orang yang sehat tidak didorong oleh konflik-konflik tak sadar dan tingkah laku mereka tidak ditentukan oleh setan-setan yang ada jauh dalam mereka. Orang yang sehat dibimbing dan diarahkan oleh masa sekarang dan oleh intensi-intensi kearah masa depan dan antisipasi-antisipasi masa depan. Pandangan orang yang sehat adalah ke depan, kepada peristiwa-peristiwa yang akan datang dan tidak mundur kembali pada peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak.

Allport percaya bahwa sama sekali tidak ada kesamaan-kesamaan fungsional antara orang yang neurotis dan orang yang sehat. Karena Allport mengetahui perbedaan-perbedaan antara manusia yang neurotis dan manusia dan manusia yang sehat ini, maka dia lebih suka mempelajari hanya orang-orang dewasa yang matang dan hanya sedikit saja berbicara mengenai orang-orang yang neurotis. Karena itu kita dapat berkata bahwa sistem dari Allport hanya berorientasi pada kesehatan.

Motivasi Pada Pribadi Yang Sehat

Allport berpendapat bahwa kepribadian yang sehat tidak dibimbing oleh kekuatan-kekuatan tak sadar atau pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak, menurut Allport motif-motif seorang dewasa bukan perpanjangan atau perluasan motif-motif masa kanak-kanak. Motif-motif orang dewasa secara fungsional otonom terhadap masa kanak-kanak yakni motif-motif itu tidak tergantung pada keadaan-keadaan asli, otonom sama seperti pohon Ek yang sudah tumbuh dengan sempurna dari bijinya yang pernah memberinya makanan. Kita tidak didorong dari belakang oleh kekuatan-kekuatan pendorong dengan akar-akar masa lampau. Allport menulis, “ memiliki tujuan-tujuan jangka panjang yang dilihat sebagai pusat dari kehidupan pribadi seseorang, membedakan manusia dari binatang, orang dewasa dari kanak-kanak, dan dalam banyak hal kepribadian yang sehat dari kepribadian yang sakit”.

“Diri” Dari Orang Yang Sehat

Konsep “diri” (self) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian yang sehat. Baik kata maupun konsep tersebut tampaknya sederhana sampai kita mulai memeriksa bermacam-macam cara bagaimana ahli-ahli teori kepribadian menjelaskan sifat dan fungsinya.

Perkembangan kepribadian Yang Sehat

Allport menerangkan pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak tertentu yang berbeda antara orang-orang neurotis dan orang-orang sehat , dan ada gunanya kalau menyelidiki pengalaman-pengalaman itu secara singkat. Allport memperhatikan hubungan antara bayi dan ibunya, khususnya dengan banyaknya keamanan dan kasih sayang yang diberikan ibu terhadap anak. Apabila bayi menerima keamanan dan kasih sayang yang cukup, pertumbuhan psikologis yang positif akan terjadi sepanjang tingkat munculnya diri. Anak akan membentuk suatu identitas dan gambaran diri, dan diri akan mulai meluas melampaui orang itu. Dengan semua segi diri pada tempatnya, maka hampir pasti akan muncul seorang dewasa yang sehat dan matang.

Kriteria Kepribadian Yang Matang.

1. Perluasan perasaan diri

Ketika diri berkembang, maka diri itu meluas menjangkau banyak orang dan benda. Mula-mula diri itu berpusat hanya pada individu. Kemudian ketika lingkaran pengalaman bertumbuh maka diri bertambah luas meliputi niali-nilai dan cita-cita yang absrak. Dengan kata lain, ketika orang menjadi matang, dia mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri. Akan tetapi, tidak cukup hanya berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang diluar diri, seperti pekerjaan. Orang harus menjadi partisipan yang langsung dan penuh. Allport menamakan hal ini “ partisipasi otentik yang dialkukan oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha manusia”.

2. Hubungan diri yang hangat dengan orang-orang lain

Allport membedakan dua macam kehangatan dalamhubungan dengan orang-orang lain: kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan teharu. Orang yan sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap orang tua, anak, partner, teman akrab. Apa yang dihasilkan oleh kapasitas untuk keintiman ini adalah suatu perasaan perluasan diri yang berkembang baik.

Perasaan terharu, tipe kehangatan yang kedua adalah suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan-kesakitan, penderitaan-penderitaan, ketakutan-ketakutan, dan kegagalan-kegagalan yang merupakan cirri kehidupan manusia. Empati ini timbul melalui ”perluasan imajinatif” dari perasaan orang sendiri terhadap kemanusiaan pada umumnya.

3. Keamanan emosional

Sifat dari kepribadian yang sehat ini meliputi beberapa kualitas; kualitas utama adalah penerimaan diri. Kepribadian-kepribadian yang sehat mampu menerima semua segi dari ada mereka, termasuk kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan tanpa menyerah secra pasif pada kelemahan-kelemahan dan kekurangan tersebut. Misalnya, orang-orang yang matang dapat menerima dorongan seks tanpa menjadi terlalu sopan atau tertekan seperti yang dapat terjadi dengan orang-orang yang neurotis. Orang-orang yang sehat mampu hidup dengan ini dan segi-segi lain dalam kodrat manusia, dengan sedikit konflik dalam diri dengan diri masyarakat.

Kualitas lain dari keamanan emosional adalah apa yang disebut allport “ sabar terhadap kekecewaan” hal ini menunjukan bagaimana seseorang bereaksi terhadap tekanan dan terhadapa hambatan dari kemauan-kemauan dan keinginan-keinginan. Orang-orang yang sehat sabar dalam mengahadapi kemunduran-kemunduran ini; mereka tidak menyerahkan diri kepada kekecewaan, tetapi mampu memikirkan cara-cara yang berbeda, yang kurang menimbulkan kekecewaan untuk mencapai tujuan-tujuan yang sama atau tujuan substitusi.

4. Persepsi Realistis

Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Sebaliknya, orang-orang yang neurotis kerapkali harus mengubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan mereka sendiri. Orang-orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang-orang lain atau situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangka pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya.

5. Keterampilan-keterampilan dan tugas-tugas

Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri sendiri di dalamnya. Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukan perkembangan keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat tertentu suatu tingkat kemampuan.

Allport mengemukakan bahwa ada kemungkinan orang-orang yang memiliki keterampilan-keterampilan menjadi neurotis. Akan tetapi tidak menemukan orang-orang yang sehat dan matang yang tidak mengarahkan keterampilan mereka pada pekerjaan mereka. Komitmen dalam orang-orang yang sehat inibegitu kuat, sehingga mereka sanggup menenggelamkan semua pertahanan yang berhubungan dengan ego dan dorongan (seperti kebanggaan) ketika mereka terbenam dalam pekerjaan mereka.

6. Pemahaman diri

Kriterium ini terkandung dalam petunjuk lama “kenallah dirimu” tentu merupakan suatu tugas yang sulit. Usaha untuk mengetahui diri secara objektif mulai pada awal kehidupan dan tidakakan pernah berhenti, tetapi ada kemungkinan mencapai suatu tingika diri(self object tifacition) tertentu yang berguna dalam setiap usia. Kepribadian sehat mencapai suatu tingkat yang tinggi dari pada orang-orang yang neurotis. ka pada pendapat orang-orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang objektif.

Orang memiliki suatu tingkat pemahaman diri yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksi kualitas-kualitas pribadinya yang negative kepada orang lain. Allport juga mengemukakan bahwa orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas dari pada orang memiliki wawasan diri yang kurang.

7. Filsafat Hidup Yang Mempersatukan

Orang-orang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuan-tujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Orang-orang ini mempunyai suatu perasaan akan tujuan, suatu tugas untuk bekerja sampai selesai, sebagai batu sendi kehidupan mereka, dan ini menberi kontinuitas bagi kepribadian mereka.

Allport menyebut dorongan yang mempersatukan ini “arah” (directness), dan lebih kelihatan pada kepribadian-kepribadian yang sehat dari pada orang-orang yang neurotis. Jadi, bagi allport rupanya mustahil memiliki suatu kepribadian yang sehat tanpa aspirasi-aspirasi dan arah kemasa depan.

Suara hati ikut juga berperan dalam suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Allport mengemukakan perbedaan antara suara hati yang matang dan suara hati yang tidak matang atau neurotis. Suatu suara hati yang tidak matang sama seperti suara hati anak-anak, yang patuh dan membudak, penuh dengan pembatasan-pembatas dan larangan-larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak.

SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL

Setelah Perang Dunia II, perhatian masyarakat mengenai kesehatan jiwa semakin bertambah. Kesehatan mental bukan suatu hal yang baru bagi peradaban manusia. Pepatah Yunani tentang mens sana in confore sano merupakan satu indikasi bahwa masyarakat di zaman sebelum masehi pun sudah memperhatikan betapa pentingnya aspek kesehatan mental.

Yang tercatat dalam sejarah ilmu, khususnya di bidang kesehatan mental, kita dapat memahami bahwa gangguan mental itu telah terjadi sejak awal peradaban manusia dan sekaligus telah ada upaya-upaya mengatasinya sejalan dengan peradaban. Untuk lebih lanjutnya, berikut dikemukakan secara singkat tentang sejarah perkembangan kesehatan mental.

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

Seperti juga psikologi yang mempelajari hidup kejiwaan manusia, dan memiliki usia sejak adanya manusia di dunia, maka masalah kesehatan jiwa itupun telah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu dalam bentuk pengetahuan yang sederhana.

Beratus-ratus tahun yang lalu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya ini. Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.

Masa selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa.

Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila. Sangat banyak jasanya dalam memperluas dan memperbaiki kondisi dari 32 rumah sakit jiwa di seluruh negara Amerika bahkan sampai ke Eropa. Atas jasa-jasa besarnya inilah Dix dapat disebut sebagai tokoh besar pada abad ke-19.

Tokoh lain yang banyak pula memberikan jasanya pada ranah kesehatan mental adalah Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Beers pernah sakit mental dan dirawat selama dua tahun dalam beberapa rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan atau pengobatan dalam asylum-asylum tersebut. Sering ia didera dengan pukulan-pukulan dan jotosan-jotosan, dan menerima hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Dan banyak lagi perlakuan-perlakuan kejam yang tidak berperi kemanusiaan dialaminya dalam rumah sakit jiwa tersebut. Setelah dirawat selama dua tahun, beruntung Beers bisa sembuh.

Di dalam bukunya ”A Mind That Found Itself”, Beers tidak hanya melontarkan tuduhan-tuduhan terhadap tindakan-tindakan kejam dan tidak berperi kemanusiaan dalam asylum-asylum tadi, tapi juga menyarankan program-program perbaikan yang definitif pada cara pemeliharaan dan cara penyembuhannya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Oleh keyakinan ini ia kemudian menyusun satu program nasional, yang berisikan:

  1. Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan para penderita mental.
  2. Kampanye memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan mental.
  3. Memperbanyak riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan mengembangkan terapi penyembuhannya.
  4. Memperbesar usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan gangguan-gangguan emosi.

William James dan Adolf Meyer, para psikolog besar, sangat terkesan oleh uraian Beers tersebut. Maka akhirnya Adolf Meyer-lah yang menyarankan agar ”Mental Hygiene” dipopulerkan sebagai satu gerakan kemanusiaan yang baru. Dan pada tahun 1908 terbentuklah organisasi Connectitude Society for Mental Hygiene. Lalu pada tahun 1909 berdirilah The National Committee for Mental Hygiene, dimana Beers sendiri duduk di dalamnya hingga akhir hayatnya.

Dasar dan Tujuan Mempelajari Kesehatan Mental

Kesanggupan seseorang untuk hidup rela dan gembira bergantung pada sejauh mana ia menikmati kesehatan mental. Kesehatan mental yang wajar adalah yang sanggup menikmati hidup ini, rela kepadanya, menerimanya dan sanggup membentuknya sesuai dengan kehendaknya.

Pemahaman terhadap kesehatan mental yang wajar memestikan akan pengetahuan tentang konsep dasar kesehatan mental, seperti yang telah dijelaskan oleh para psikolog, yaitu motivasi (motivation), pertarungan psikologikal (psychologgical conflict), kerisauan (anciety), dan cara membela diri.

Motivasi adalah keadaan psikologis yang merangsang dan memberi arah terhadap aktivitas manusia. Dialah kekuatan yang menggerakkan dan mendorong aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu motivasi primer (biologis) yang mempunyai kaitan dengan dengan proses organik atau yang timbul dari kekurangan atau kelebihan pada sesuatu yang berkaitan dengan struktur organik manusia. Kedua, motivasi sekunder (psikologi) yang jelas tidak ada kaitannya dengan organ-organ manusia.

Pertarungan psikologis adalah terdedahnya (tercegahnya) seseorang kepada kekuatan-kekuatan yang sama besarnya yang mendorongnya kepada berbagai hal dimana ia tidak sanggup memilih salah satu hal tersebut.

Kerisauan, secara umum, adalah pengalaman emosional yang tidak menggembirakan yang dialami seseorang ketika merasa takut atau terancam sesuatu yang tidak dapat ditentukannya dengan jelas. Biasanya keadaan ini disertai perubahan keadaan fisiologis, seperti cepatnya debaran jantung, hilang selera makan, rasa sesak nafas, dan lain sebagainya.

Cara membela diri merupakan cara yang dibuat dan dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar untuk menghindarkan dirinya menghadapi pergolakan kerisauan yang dihadapi dan kekuatan-kekuatan yang bertarung dengan nilai-nilai, sikap dan tuntutan masyarakat.

Mempelajari kesehatan pada berbagai ilmu itu pada prinsipnya bertujuan sebagai berikut:

  1. Memahami makna kesehatan mental dan faktor-faktor penyebabnya.
  2. Memahami pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam penanganan kesehatan mental.
  3. Memiliki kemampuan dasar dalam usaha peningkatan dan pencegahan kesehatan mental masayarakat.
  4. Meningkatkan kesehatan mental masyarakat dan mengurangi timbulnya gangguan mental masyarakat.